Jumat, 29 Maret 2013

Struktur Batin Puisi


STUKTUR BATIN PUISI
Oleh : Nuryanto
I.Pendahuluan
1.1  Latar Belakang

Puisi sebagai salah satu jenis sastra merupakan pernyataan sastra yang paling inti. Segala unsur seni kesusastraan mengental dalam puisi ,oleh karena itu puisi dari dulu hingga sekarang merupakan pernyataan seni sastra yang paling baku.
Membaca puisi merupakan kenikmatan seni yang khusus bahkan merupakan puncak kenikmatan seni sastra,oleh karena itu dari dulu hingga sekarang puisi selalu diciptakan orang dan selalu dibaca,dideklamasikan untuk lebih merasakan kenikmatan seni dan nilai kejiwaannya yang tinggi, puisi digemari oleh semua lapisan masyarakat.Karena kemajuan masyarakat dari waktu kewaktu  maka corak, sifat dan bentuk puisipun selalu berubah, mengikuti perkembangan. Begitu juga halnya corak dan wujud puisi Indonesia modern.
Pada saat ini puisi Indonesia modern semakin diminati oleh semua lapisan masyarakat Indonesia, tidak hanya terbatas pada anak-anak muda, pelajar, dan mahasiswa saja melainkan juga diminati oleh masyarakat umumnya. Hal ini selain memberikan kenikmatan seni puisi juga memperkaya kehidupan batain, menghaluskan budi, bahkan bisa membangkitkan semangat hidup yang menyala dan mempertinggi rasa ketuhanan dan keimanan. Akan tetapi puisi Indonesia modern kian sukar dan kompleks. Hal ini disebabkan oleh keinginan para penyair untuk menyajikan kemajuan seni yang setinggi-tingginya hingga memberikan kenikmatan seni.
Menurut Ralph Waldo, Puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa, menggerakkan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkannya( Tarigan,4).
Puisi adalah sebuah totalitas atau sebuah struktur dari elemen-elemen atau unsur-unsur pembangun puisi.  Dari zaman kezaman wujud struktur puisi itu berubah-ubah tetapi tetap sebagai struktur. Majas, versifikasi dan pengkonsentrasian bahasa merupakan unsur-unsur puisi yang tetap bertahan. Struktur puisi dibangun oleh struktur fisik (metode pengucapan makna) dan struktur batin (makna puisi). Struktur fisik dan struktur batin tidak dapat dipisahkan dengan lainnya. Kemampuan mendalami struktur fisik sebuah puisi memungkinkan pembaca memiliki kemampuan menghayati makna yang hendak disampaikan penyair karena tema, perasaan, nada, dan amanat disampaikan melalui struktur fisik puisi
1.2. Perumusan Masalah
Masalah makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
      a. Apakah pengertian puisi ?
      b. Apakah struktur batin puisi?
      c. Bagaimanakah contoh penggunaan struktur batin dalam puisi?
      d. Apa sajakah macam-macam puisi?
      e. Apakah yang dimaksud  dengan kecenderungan mutakhir puisi Indonesia?


II.PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Puisi
            Meskipun sampai sekarang orang tidak dapat memberikan difinisi yang tepat mengenai puisi, namun untuk memahaminya perlu diketahui ancar-ancar sekitar pengertian puisi.Menurut Wirjo Soedarmo, puisi itu karangan yang terikat oleh: banyak baris dalam tiap bait( kuplet/stropa,suku karangan), banyak kata dalam tiap baris, rima dan irama. Dari contoh yang dikutip diatas, teranglah definisi tersebut sudah tidak cocok lagi dengan wujud puisi zaman sekarang .
Coleridge mengemukakan puisi adalah kata-kata yang terindah.Penyair memilih kata-kata yang tepat dan disusun sebaik-baiknya.
Carlyle berkata,puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair dalam menciptakan puisi itu memikirkan bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.
Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.
Auden mengemukakan bahwa puisi lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur baur
Dari definisi-definisi tersebut kelihatan adanya perbedaan-perbedaan pikiran mengenai pengertian puisi.Sahnon Ahmad ( 1978:3-4 ) bahwa bila unsur-unsur dari pendapat-pendapat itu dipadukan maka akan didapat garis-garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan dan perasaan yang bercampur baur. Disitu dapat disimpulkan ada 3 unsur pokok yakni: 1.  hal yang meliputi pemikiran, ide, atau emosi, 2. bentuknya 3. kesannya.
Jadi puisi adalah mengekspresikan pikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama
2.2 Struktur Batin Puisi
Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair dan stuktur batin puisi mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya ( Herman J.Waluyo, 1987:102 ). I.A.Richards dalam J.Waluyo (1991:106) menyebutkan makna atau stuktur batin itu dengan istilah hakekat puisi. Ada empat unsur hakekat puisi yakni.
2.2.1 Tema/Makna (Sense)
         Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan  tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait,  maupun makna keseluruhan.
2.2.2 Rasa (Feeling)
         Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.


2.2.3 Nada (Tone)
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
2.2.4 Amanat/Tujuan/Maksud (Itention)
Amanat/tujuan/maksud yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca, sadar maupun  tidak ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi .Tujuan tersebut dapat dicari sebelum penyair menciptakan puisi maupun dapat ditemui dalam puisinya.

2.3 Unsur-Unsur Struktur Batin Puisi dan Contohnya
                       
                                         Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Aryani
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang,rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali kapal, perahu tiada berlaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan tidak bergerak
Dan kini, tanah, air, tidur, hilang ombak

Tiada lagi, aku sendiri berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba diujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat,sedu penghabisan bias berdekap.
                                                 ( Chairil Anwar,1946 )

a.Tema atau Sense
Puisi diatas dapat dianalisis bahwa temanya adalah cinta yang gagal sehingga menimbulkan kedukaan . Kedukaan penyair sangat mendalam. Hal ini dapat dibuktikan setelah kita menelaah struktur fisik maupun struktur batin (hakekat) puisi penyair  
b. Perasaan atau Feeling
Perasaan penyair pada waktu menciptakan puisi ini dapat kita rasakan juga sewaktu kita menelaah dari bait kebait. Perasaan sedih, sepi dan menyendiri.Kesedihan itu kadang-kadang diselingi tumbuhnya harapan akan datangnya sang kekasih untuk memenuhi harapan cintanya, namun pada tiap akhir bait dinyatakan bahwa harapan cintanya musnah,sehingga jiwanya seperti mati.

c. Nada atau Tone
Nada puisi tersebut adalah nada bercinta sambil meratap. Penyair menceritakan kegagalan cintanya disertai ratapan yang sangat mendalam, bahkan oleh kegagalan itu hatinya benar-benar terluka.

d. Amanat atau Intention
Amanat puisi itu menyatakan bahwa penyair ingin mengungkapkan kegagalan cintanya yang menyebabkan kesedihan yang mencekam seolah-olah kehilangan segala-galanya.

2.4 Macam-Macam Puisi
Untuk lebih mempermudah pemahaman tentang karya sastra puisi, berikut ini dipaparkan jenis dan macam-macam puisi.
1.      Puisi Romantik
Puisi romantik merupakan puisi-puisi yang mengusung tema-tema romantisme seperti percintaan dan pernikahan. Puisi-puisi jenis ini biasanya banyak diminati kalangan muda.Puisi romantik terkadang menjadi alternative para penyair yang ingin meluahkan kondisi batinnya soal romantisme, baik itu terhadap orang yang dia kagumi maupun kondisi kisah percintaan sipenyair.
2.      Puisi Kritik Sosial
Kehidupan sosial juga menjadi tema yang cukup menarik untuk dikemas dalam sebuah sajian puisi. Bahasa penyair terkadang menjadi alternative solusi penyampaian aspirasi,setelah bahasa-bahasa politik tak lagi didengar. Para penyairpun memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat,aspirasi, maupun kegundahan hati terhadap kondisi sosial sekitar melalui sebuah karya puisi.
3.      Puisi Transparan
Secara tekhnik penyajian jenis puisi transparan biasanya disukai oleh kalangan pemula penikmat puisi. Kelebihan puisi ini mudah dipahami,menggunakan bahasa yang dapat dimengerti sekali baca saja. Namun bagi kalangan yang sudah lama menggeluti dunia puisi, jenis ini kurang menarik karena tidak memberikan tantangan dan nilai estetika yang masih relatif rendah.
4.      Puisi Abstrak
Jenis puisi ini menggunakan bahasa yang rumit untuk dimengerti dalam sekali baca. Nilai estetika gaya bahasa terlihat jelas dan sangat kental biasanya banyak dijumpai pada karya-karya penyair ternama.
5.      Puisi Kongret
Yakni puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar. Ia ingin memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dan baris serta bait yang menyerupai gambar seperti segi tiga, huruf ,kerucut,balok,belah ketupat segi empat dan sebaliknya.

2.5. Beberapa Kecenderungan Mutahir Puisi Indonesia
             Kencenderungan melakukan penyimpangan tema dan bahasa nampaknya begitu kuat pada penyair-penyair mutakhir. Tema puisi yang biasanya dikaitkan dengan hal yang sublime, yang halus, yang luhur, yang menghindari kata tabu, akhir-akhir ini melepaskan ikatan itu. Banyak penyimpangan yang dilakukan penyair sebagai ujud ekspresi kreativitasnya. Bentuk tipografi konfensional juga banyak ditinggalkan, sekalipun masih banyak juga penyair yang mempertahankan tipografi konfensional.
Dami N. Toda mengibaratkan Chairil Anwar sebagai mata kanan dan Sutadji Calzoum Bachri sebagai mata kiri. Suatu paduan yang tidak dapat dipidahkan dan bersifat saling mengisi.

Menurut Geoffrey Leech terdapat 9 penyimpangan kecenderungan mutakhir puisi Indonesia.
1.      Penyimpangan lekslikal, maksudnya penyimpangan makna kata
2.      Penyimpangan semantik, artinya kebanyakan puisi menggunakan bahasa yang bermakna konotatif.
3.      Penyimpangan fonologis, artinya sering digunakan kata-kata dengan bunyi yang menyimpang untuk memperoleh efek kepaduan bunyi
4.      Penyimpangan morfologis, artinya penyimpangan dalam bentukan kata (proses morfologis).
5.      Penyimpangan sintaksis, artinya penyimpangan dalam pembentukan kalimat secara konvensional.
6.      Penyimpangan dialek, artinya pengambilan dialek asal penyair sehingga kata-kata bahasa daerah muncul.
7.      Penyimpangan register, artinya penggunaan ragam bahasa tertentu untuk ungapan perasaan khas.
8.      Penyimpangan histories, artinya pemakaian kata-kata yang sudah tidak umum dipakai dalam bahasa modern.
9.      Penyimpangan grafologis, artinya secara sengaja menyimpang dari sruktur linguistic Indonesia yang baku.

Puisi Indonesia terdapat kecenderungan menciptakan puisi lugu yakni puisi yang menggunakan teknik pengungkapan ide secara polos dengan kata-kata serebral, dan kalimat-kalimat yang biasa atau polos .

Contoh
           
                                    Karena Jajang                                   karya Aripin C. Noer

            Tuhan/ saya tidak percaya/ Jajang ada diselayo
            Sebab saya pernah tahu/ Jajang ada dimana
            Buktinya di kamar ini saja/ Jajang selalu menyanyi/
            Dan saya tidak selalu berhasil/ menemuinya

Nampak bahwa puisi diatas tanpa perenungan untuk memahaminya, majas versifikasi, pemadatan bahasa tidak dipentingkan

III.PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari definisi-definisi yang telah diutarakan para ahli ada perbedaan-perbedaan pikiran mengenai pengertian puisi, namun unsur-unsur dari pendapat itu dipadukan akan didapat garis-garis besar tentang pengertian puisi sebenarnya.
Puisi adalah mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.
Pengaruh puisi dan unsur-unsurnya dalam bahasa Indonesia sangat erat, dikarenakan dalam puisi terdapat unsur-unsur yang sangat dibutuhkan dalam menciptakan puisi yang harus diikuti oleh para penyair. Adapun unsur-unsur puisi meliputi tema,nada, rasa, amanat, diksi, imajinasi, bahasa figuratif, kata kongrit, ritme, dan rima. Kemudian unsur-unsur ini dipilah menjadi dua struktur yaitu struktur batin puisi ( tema, nada, rasa, dan amanat). Sedangkan struktur fisik puisi ( diksi, imajinasi, bahasa figurative, kata kongrit, ritme, dan nada). Struktur fisik dan struktur batin puisi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan
Kecenderungan melakukan penyimpangan tema dan bahasa nampaknya begitu kuat pada penyair-penyair mutakhir. Menurut Geoffrey Leech terdapat 9 penyimpangan bahasa kecenderungan mutakhir puisi Indonesia.yakni penyimpangan ( leksikal, semantic, fonologis, morfologis, sintsksis, dialek, register, histories, grafologis )










DAFTAR PUSTAKA
           
Aminuddin,2004.Pengantar Apresiasi Karya Sastra Bandung:Sinar Baru Algesindo Offset
Rachmat Djoko Pradopo,1987,  Pengkajian puisi, Yogyakarta: Gajah Mada
Sayuti Suminto A.Prof.DR, Berkenaan dengan puisi, Yogyakarta : Gama media









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar